Story


Batik Semar didirikan oleh Somadi dan Niniek Elia Kasigit pada tahun 1947.

Pada awal berdiri, perusahaan keluarga ini menggunakan nama Bodronoyo yang merupakan nama lain dari Semar dalam kisah pewayangan Jawa. Karakter ini merupakan representasi dari kebijaksanaan dan ketulusan dalam melayani masyarakat.

Semar diyakini sebagai perwujudan bagi pertumbuhan dan kemakmuran yang ugahari. Pemilihan nama ini menggambarkan visi keluarga Kasigit untuk terus berbagi dengan dan mengilhami masyarakat dengan tradisi Batik Jawa.

Usaha keluarga yang masih muda ini harus menghadapi tantangan berat karena tingginya harga-harga kain pada masa pasca penjajahan. Agresi Militer Belanda ke Indonesia pada tahun 1949 memaksa keluarga Kasigit untuk pindah ke Surabaya. Disini mereka berkesempatan untuk bekerjasama dengan para pembatik Sidoarjo untuk memperkenalkan motif batik Solo di Jawa Timur.

Pada tahun 1950 keluarga Kasigit kembali ke Solo dan mengembangkan kembali usahanya. Dimulai hanya dengan mempekerjakan 5 orang karyawan, perusahaan ini berkembang dengan pesat hingga dapat menghidupi 200 orang karyawan di era 1960an. Pada masa ini nama Batik Semar mulai digunakan untuk menggantikan Batik Bodronoyo, hal ini dilakukan setelah menimbang bahwa nama Semar dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Pada 1970an, teknologi printing (cetak) tekstil mulai marak di Indonesia.Penggunaan mesin printing dapat menekan biaya produksi dan mengubah batik menjadi produk masal, pasar pun menuntut batik dengan harga murah. Hal ini membuat Batik Semar harus beradaptasi memproduksi batik printing demi mempertahankan daya saingnya di pasar batik nasional.

Ekspansi ke pasar internasional dimulai pada tahun 1989 atau enam tahun setelah Somadi Kasigit meninggal, Batik Semar mulai mengekspor batik dan kerajinan ke Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara Asia.

Pada tahun 2002, Batik Semar kembali mengalami cobaan, kali ini kebakaran yang menghanguskan showroom utama dan kompleks produksi batik. Kediaman Niniek Kasigit juga turut dilalap api dan koleksi batik antik beliau juga ikut terbakar.

 

Batik Semar terus berkembang hingga kini memiliki sekitar 30 pembatik in-house dan lebih dari 30 plasma yang tersebar di Solo, Cirebon, Pekalongan dan Madura. Keluarga besar Batik Semar sekarang beranggotakan lebih dari 700 orang karyawan, dengan sedikitnya 60 gerai yang melayani konsumen di seluruh Indonesia.