ENGLISH   |   BAHASA INDONESIA
 
 
   

Hampir 75 tahun waktu berlalu sejak pertama kalinya pasangan suami istri mendirikan usaha yang sekarang dikenal sebagai Batik Semar. Keputusan ini lahir setelah pernikahan mereka melewati tahun pertamanya, yang ditandai dengan berdirinya usaha batik tulis yang awal mulanya dinamakan Batik Bodronoyo.

Nama Bodronoyo atau lebih terkenal sebagai Semar berasal dari kisah pewayangan Jawa, karakter ini merupakan representasi dari kebijaksanaan dan ketulusan dalam melayani masyarakat. Dalam budaya Jawa, Semar diyakini sebagai perwujudan bagi pertumbuhan dan kemakmuran yang ugahari. Keunikan pilihan nama ini secara tidak langsung menggambarkan visi keluarga Kasigit untuk terus berbagi dengan dan mengilhami masyarakat.

Usaha keluarga yang masih muda ini kemudian harus segera menghadapi kenyataan yang sulit akibat dari krisis ekonomi ketika Indonesia baru saja lepas dari penjajahan Jepang. Dengan harga bahan yang melonjak tinggi, pasangan Kasigit terus bergiat untuk mengembangkan prakarsa batiknya.

Pada tahun 1949 mereka menghadapi tantangan sulit yang disebabkan oleh Agresi Militer Belanda yang memaksa keluarga Kasigit untuk pindah ke Surabaya. Semasa pengungsian ke Jawa Timur, mereka tetap meneruskan usaha batiknya, berkolaborasi dengan pengrajin batik dari Sidoarjo untuk memperkenalkan batik Solo di kawasan tersebut.

Pada tahun 1950 mereka kembali ke Solo untuk mengembangkan usahanya. Dimulai dengan hanya 5 orang karyawan, perusahaan ini terus berkembang hingga memiliki 200 orang karyawan pada era 1960an. Nama Batik Semar mulai secara resmi diperkenalkan pada tahun 1966, setelah menimbang bahwa nama tersebut lebih dikenal luas oleh masyarakat.

Pada 1970an, teknologi printing tekstil mulai marak di Indonesia. Penggunaan mesin printing menekan ongkos produksi dan mengubah batik menjadi produk massal. Pasar menuntut batik dengan harga murah, hal ini juga berdampak pada Batik Semar yang harus beradaptasi untuk mempertahankan daya saingnya di mata konsumen.

Selain terus mengembangkan pembuatan batik tulis dan cap, Batik Semar juga mendirikan anak perusahaan Semar Mas Garmen yang memproduksi batik siap pakai untuk melayani kebutuhan konsumen yang terus meningkat. Ekspansi ke pasar ekspor mulai dirintis pada tahun 1989 atau enam tahun setelah wafatnya Somadi Kasigit, Batik Semar mulai mengekspor batik dan kerajinan tangan ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan beberapa negara Asia.

Pada tahun 2002, Batik Semar kembali mengalami cobaan, yakni ketika api menghanguskan kompleks ruang pamer sekaligus area pembuatan batik. Kediaman Niniek Kasigit juga ikut terbakar, koleksi batik kuno yang diwarisinya dari orangtuanya ikut musnah oleh api.

Kini Batik Semar memiliki sekitar 30 pembatik in-house dan lebih dari 30 plasma yang tersebar di Surakarta, Cirebon, Pekalongan dan Madura. Keluarga besar Batik Semar sekarang beranggotakan total 700 karyawan dengan sedikitnya 50 gerai yang melayani konsumen di seluruh Indonesia.


 Copyright © 2013 Batik Semar All Rights Reserved. FACEBOOK     INSTAGRAM