KIRAB BATIK SOLO MEMBATIK DUNIA
12 Oktober 2009

Sabtu, 3 Oktober 2009
Setelah demikian uletnya perjuangan kita di UNESCO, maka pada akhirnya UNESCO mengukuhkan bahwa Batik Indonesia menjadi Warisan Budaya Dunia (world heritage) yang diselenggarakan 2 Oktober 2009, dan hal ini disambut gembira masyarakat Indonesia terutama kota kota yang menjadi centra batik. Kota Solo yang sekarang memang sangat berbeda dengan kota Solo beberapa tahun yang lalu, sejak tampuk Walikota dipegang oleh Bpk. Ir. Joko Widodo dan wakilnya Bpk. Fx. Rudiyatmo kota Solo sangat berubah baik penampilan maupun event event yang diselenggarakan. Mungkin anda bertanya pelaksanaan Kirab Batik Solo kenapa kok tanggal 3 Oktober 2009 bukanya tanggal 2 Oktober 2009, jawabnya karena selisih waktu saja sehingga pelaksanaan Kirab Batik Solo diundur menjadi tanggal 3 Oktober 2009, dan supaya UNESCO tidak merasa didahului, karena kita di belahan timur kita lebih dulu jamnya.
Kirab Batik Solo Membatik Dunia diikuti lebih dari 15 irbu peserta baik dari sekolah sekolah Instansi pemerintah maupun swasta, perbankan, perhotelan, pelaku batik termasuk UKM, perorangan dan sebagainya. Namun ternyata ada salah satu peserta yang menjadi pusat perhatian yakni peserta dari Batik Semar, mereka memperkenalkan konsep Lilit (bukan dijahit), sebanyak 10 lembar kain jarik berbagai motif dililitkan ke seorang model dan 30 lembar kain jarik yang juga dililitkan di kereta kuda, hal ini yang menyebabkan peserta dari Batik Semar lain dari pada yang lain demikian ujar salah seorang penonton kepada team liputan batik semar.
Tetapi juga dengan adanya tokoh Semar serta menampilkan pakaian pakaian batik Casual, Kerja, Koleksi, serta pakaian Pesta sangat membedakan  dari peserta yang lain. Walaupun diurutan terakhir peserta Batik Semar tetep semangat sehingga pada waktu di depan panggung kehormatan dan dengan dipimpin oleh tokoh Semar peserta mengucapkan “Batik Semar, Busana Budaya Bangsa” maka Walikota dan Wawali serta hadirin dan tamu undangan sontak bertepuk tangan dan Batik Semar melanjutkan perjalanan menuju finish di balaikota Surakarta.
Disepanjang perjalanan banyak masyarakat yang ingin berfoto baik bersama tokoh semar serta model yang dililit di atas kereta kuda. Namun tidak semua masyarakat ingin berfoto tapi juga ada anak anak yang menangis ketika didekati oleh tokoh semar. Demikian penjelasan seorang koordinator lapangan Herman Priyono selaku Promosi Batik Semar.
(goesprie/team liputan batik semar)