Celana Kolor Bermotif Batik Diminati Warga Perancis
09 Maret 2010
SEJUMLAH
negara di dunia kini tengah gandrung dengan produk Indonesia yang
bernama batik. Perancis menjadi salah satu negara tujuan ekspor batik
walaupun
masih kalah dibandingkan negara lain seperti Amerika Serikat, Belgia,
Jerman
dan Inggris.
Apakah benar batik Indonesia digemari masyarakat yang tinggal di negara
mode?
Corak batik apa yang diminati? Berikut laporan Dini Kusmana Massabuau
--penulis
Citizen Journalism Tribun Kaltim-- dari Perancis buat pembaca Tribun
Kaltim.
MENGENAKAN pakaian batik di negara yang memiliki empat musim, memang
serba
repot. Ada beberapa kendala ketika harus memakai baju batik. Bahan dasar
pakaian batik yang berasal dari kain katun atau sutra, rasanya tak mudah
dipakai selain di musim panas.
Memang benar dari awal bulan Juni hingga akhir musim panas, pakaian
batik
banyak kita temukan di tempat-tempat turis, apalagi daerah pantai. Baju
yang
bercorak dan bermodel ceria ini menjadi sasaran empuk bagi para
pelancong. Bila
musim panas tiba, sebagian besar warga Perancis ingin tampil ceria. Ini
menandakan kegembiraan mereka akan panasnya mentari yang membakar tubuh
mereka
nan pucat.
Namun bila musim dingin datang, pakaian batik sepertinya lenyap dari
peredaran.
Sebenarnya orang Perancis, bukan tipe manusia yang mau menggunakan
pakaian
bercorak. Mereka lebih menyukai warna-warni klasik dan gelap. Rasanya,
Perancis
tidak cocok dengan sebutan atau mendapat julukan sebagai negara pusat
mode.
Tapi begitulah adanya.
Di kota saya, Montpellier, ada sepasang suami istri yang menjual
kerajinan
(souvenir) Indonesia, tepatnya di Pantai Palavas. Sejak beberapa tahun
lalu,
Agus sang suami berdarah Yogyakarta, sudah lama membuka toko bersama
istrinya.
sang istri bernama Nathalie, berasal dari Perancis.
Bicara tentang pakaian batik, mereka mengakui bahwa produk dari
Indonesia itu
hanya bisa dijual ketika memasuki musim semi hingga datangnya musim
gugur.
Namun untuk produk batik berupa dekorasi rumah atau hiasan kecil
(souvenir)
boleh dibilang tidak mengenal waktu. Karena alasan itulah, mereka tidak
hanya
menjual pakaian batik tapi juga produk lainnya berupa kerajinan khas
Yogyakarta.
Pakaian batik yang dijual rata-rata model simpel. Seperti pakaian tanpa
lengan
untuk wanita, kain batik yang biasa dililitkan sebagai penutup tubuh
buat
berjalan-jalan di pinggir pantai. Dan paling trend sekarang ini
adalah
celana panjang dan pendek (kolor) bermotif batik.
Penggemarnya mulai anak-anak hingga dewasa baik pria maupun wanita.
Kemeja
batik pria dengan corak senada dan berwarna tak terlalu mencolok, juga
sering
menjadi sasaran warga Perancis. Sebagian besar pakaian batik yang laris
manis
adalah pakaian yang bisa dipakai untuk bermain-main di tepi pantai atau
buat
nyantai. ***
BERAPA harganya? Harga yang di tawarkan bervariasi. Mulai dari 10 euros
hingga
45 euros per potong. Harga ini tidak terlalu mahal bagi pelancong yang
menggunakannya hanya dalam satu musim. Sedangkan pakaian batik dengan
model
sedikit bervariasi atau rancangan tertentu, masih sulit dipakai
masyarakat
Perancis.
Hal ini saya ketahui setelah ngobrol dengan Daphne Barbedette,
satu-satunya
orang Perancis yang memiliki butik khusus menjual pakaian batik kreasi
perancang indonesia seperti Carmanita dan Dewi Adby, di Paris. Menurut
pemilik
butik Wayang Lali ini, pakaian batik kreasi masih sulit dikonsumsi orang
Perancis.
Apa penyebabnya? Selain di Perancis tidak ada budaya memakai pakaian
batik untuk
acara tertentu seperti di Indonesia, juga dikarenakan batik merupakan
pakaian
yang bermotif khusus. Akibatnya, masih banyak warga Perancis yang belum
berani
memakainya. Beda jika kain bermotif batik itu hanya berupa syal kecil.
Rasanya
lebih memungkinkan untuk dikonsumsi dan lebih mudah dipadukan dengan
pakaian
lainnya.
Lantaran beberapa faktor itulah, wanita yang bersuamikan pria Indonesia
itu
mengutarakan niatnya akan menutup butiknya dalam beberapa bulan
mendatang.
Padahal usaha yang telah dirintisnya itu telah berdiri sejak tahun 2005.
Sayang
sekali.... Padahal di Perancis hanya dialah satu-satunya wanita yang
berani
membuka butik pakaian batik Indonesia.
Bangsa kita sendiri saja tidak ada yang berani. Hal itu saya ketahhui
lewat
konsulat dan Kedutaan Indonesia. Menurut mereka, kebanyakan orang
Indonesia yang
berdagang di Perancis, lebih suka
menjual kerajinan Indonesia.
Sedangkan toko yang khusus menjual pakaian batik, hampir tidak ada.
Berbeda dengan batik sebagai dekorasi rumah. Produk ini boleh dibilang
mudah
ditemui di toko-toko dekorasi dan tentunya tak mengenal musim. Kerajinan batik seperti inilah yang lebih banyak
diimpor negara Perancis dari Indonesia. Dan ternyata kualitas dan corak
batik
Indonesia masuk dalam katagori terbaik di atas Malaysia.
Akibatnya, corak khas batik Indonesia takut dicontek oleh negara lain
karena
banyak yang belum memiliki hak paten. Untungnya bangsa Indonesia di
Perancis
masih setia dengan pakaian batik. Banyak para suami atau wanita Perancis
yang
menggunakan pakaian batik setiap menghadiri acara berbau ke Indonesiaan.
Mereka
dengan bangga dan tanppa merasa sungkan. Saya hormat dan salut dengan
sikap
mereka yang mau menghargai karya bangsa Indonesia.
Dalam pikiran saya, andai saja mereka mengenal batik dan bagaimana
proses
pembuatannya, tentu saja banyak yang jatuh cinta dengan batik. Misalnya
keluarga suami atau teman-teman saya, mereka selalu gembira dan bangga
bila
kami berikan oleh-oleh kain batik.
Biasanya, untuk memakainya mereka selalu menanyakan terlebih dahulu
kapan
pakaian batik ini harus dikenakan dan pada acara apa? Terakhir kali
sahabat
saya Charlotte datang untuk jamuan makan di kediaman kami. Ia
terlihat
semakin anggun saat mengenakan blouse dan selendang batik oleh-oleh dari
saya.
Kalau tidak percaya, lihat betapa manis dan cantiknya wanita itu saat
mengenakan pakaian batik Indonesia….
Memang bila sudah mengenal, pastil
ada rasa sayang dan rasa memiliki…