Ardiyanto Pranata: “Jawanisasi” Desain Bikin Batik tak Berkembang
20 Agustus 2009

Meskipun denyut pemulihan industri tekstil sudah mulai terasa saat ini, para ahli batik dan desainer tekstil Indonesia sangat prihatin dengan proses pemiskinan dan penyempitan corak atau desain beragam batik dari berbagai daerah di Indonesia.
Pemiskinan dan penyempitan pertumbuhan desain, terutama dipicu oleh proses “Jawanisasi” dalam desain, serta eksploatasi terhadap desain lama, sehingga beragam corak daerah yang memiliki kekuatan keunikan hilang karena masuknya unsur-unsur desain, teknik pembuatan, dan selera batik Jawa.
“Sudah sangat sering saya lontarkan keprihatinan saya ini ke berbagai tempat, memang ada proses ‘Jawanisasi’ dalam desain yang sesungguhnya justru merusak desain-desain dari berbagai daerah. Cuma kegelisahan seperti ini ternyata tidak jadi kegelisahan nasional. Padahal kesalahan seperti ini kemudian jadi kejahatan dalam kesenian yang tidak disadari,” kata Ardiyanto Pranata (55) desainer batik dan tekstil terkenal dari Yogyakarta kepada Kompas, Kamis (27/10) petang. Keluhan seperti itu, katanya, mulai dirasakan oleh beberapa rekannya sesama desainer namun sulit mengajak semua pihak mengatasinya.
Instruktur desain tekstil dan batik pada Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (PPPG) Kesenian Yogyakarta itu terus terang mengemukakan, Indonesia bukan hanya Pulau Jawa. Batik Indonesia bukan cuma batik Jawa. Berbagai daerah di Indonesia sebenarnya memiliki corak sendiri dan jumlahnya luar biasa besar.
“Saya beruntung mendapat pesanan untuk mengembangkan desain-desain batik Sulawesi Selatan. Tetapi saya tahu persis, tidak akan saya masukkan unsur-unsur cecek atau isen-isen (dua teknik membatik asal Jawa) pada batik Sulawesi. Desain dan pola-pola yang ada itulah yang akan saya angkat kembali, dan kita ciptakan dalam wujudnya yang baru tanpa menghubungkan dengan teknik pembuatan Jawa. Ini pasti akan menimbulkan kekuatan baru, dan Anda akan heran kalau ini serius ditangani dan ada tenaga-tenaga di daerah, dalam lima-sepuluh tahun lagi akan panen desain batik daerah yang elok,” kata Ardiyanto.
Ardiyanto Pranata menunjukkan puluhan desain (corak) batik klasik Jambi, Bengkulu, Pekanbaru, Manado, dan Sulawesi Selatan sempat mengalami kemunduran desain justru karena campur tangan dan masuknya unsur-unsur asing yang membuat semua batik kita menjadi berselera Jawa. Padahal ciri batik Jawa yang ber-soga, coklat kehitaman, dan simbol-simbol yang termuat dalam desain-desainnya, tidak bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan pakaian. Inilah sebabnya, sejumlah desain batik klasik maupun desain yang dianggap baru mengalami kejenuhan pasar.
Ardiyanto yang selama ini dikenal sebagai desainer kain, desainer pakaian serta produsen tekstil mengemukakan, batik Jawa bukannya jelek, tetapi jika kita mengulang-ulang desain yang ada, pasarnya terbatas dan penggunaan corak itu pun terbatas. Tetapi jangan lalu membawa tukang-tukang batik Jawa ke Kalimantan, Jambi, atau Sulawesi Selatan dan mereka diminta meniru atau menangani desain batik setempat. Cara-cara yang banyak dilakukan desainer baru dan para istri pejabat itu, dianggap sebagai “kejahatan kultur” yang sangat merugikan keaslian desain dan spirit senirupa daerah.
Beberapa kendala
Kendala lain yang dilihat Ardiyanto ialah tebatasnya jumlah desainer (corak kain) yang benar-benar memahami keberagaman budaya daerah, maupun minimnya sekolah atau studio-studio tekstil, batik, dan kain yang secara khusus mendalami dan mendidik tenaga-tenaga baru.
“Karena tidak mendalami sungguh-sungguh, pada saat akan membuat desain larinya ke motif-motif lama yang mereka ambil dari buku-buku. Pada saat mereka harus go international mereka tidak punya apa-apa karena desain yang ada sudah dicontoh di mana-mana, bahkan desain parang dari Jawa misalnya sudah dipatenkan jadi milik sebuah negara Eropa,” kata Ardiyanto menunjukkan kelemahan kultur komunal kita menghadapi budaya modern hak paten.
Ketidaksiapan lain, karena tidak adanya institusi atau balai kajian batik yang bisa mengkader desainer baru. Kalau industri batik/tekstil hanya mengandalkan pabrik, perusahaan itu akan ambruk, karena tak terserap pasar. Padahal pabrik harus memiliki tenaga desain, peka dengan trend warna, trend bahan, maupun mengkombinasikannya dengan teknik pembuatan tekstil seperti makrame (seni rajutan), bordir, sulam, maupun jumputan.