Trend Bisnis Batik yang Menggiurkan
12 Agustus 2009

» Kategori berita : Bisnis / Usaha
Dikirim oleh : Administrator
Tentu masih segar diingatan kita, awal 2008 lalu, warna ungu (purple) menjadi tren warna 2008. Kalangan masyarakat menilai, warna ungu diidentikkan sebagai warna gaul. Menginjak pertengahan 2008, batik mulai booming. Batik mulai bergeser dari pakaian resmi atau formal ke pakaian sehari-hari, kantor pemerintahan dan swasta pun mulai mewajibkan para pegawainya mengenakan batik setiap hari Jum’at, sehingga tak heran pada hari itu, kita banyak melihat orang-orang mengenakan batik dengan beberbagai style. Batik sebagai warisan luhur bangsa Indonesia yang merupakan karisma khasanah fashion di kancah nasional diharapkan mampu menembus pasar international. Batik merupakan satu upaya untuk menarik para wisatawan asing dalam program pemerintah “Visit Indonesia Year 2008”.
Kerajinan batik yang berasal dari daerah-daerah sentra batik seperti : Pekalongan, Jogjakarta, Solo, Cirebon sudah lama kita kenal. Bahkan saat ini, corak yang berasal dari daerah Sumatera sudah dapat kita temui. Para pengusaha mulai melirik tren batik yang semakin menarik ini. Beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta seperti Plaza Semangi, pada awal Agustus lalu mengadakan bursa batik di lantai dasarnya. Harga yang ditawarkan bervariatif dari 100-400 ribu rupiah perpotong. Selain itu, toko-toko yang khusus menjual batik seperti Batik Keris, Danarhadi, ataupun Terang Bulan setiap harinya ramai dikunjungi pembeli.
Rupanya tak hanya pusat perbelanjaan yang berkelas saja yang ramai menjual batik, ternyata permintaan akan batik di pusat belanja Tanah Abang yang merupakan pusat grosir tekstil murah di Jakarta itu pun terus meningkat. Pada umumnya, pedagang di Tanah Abang ada yang memproduksi garmen batik sendiri dan ada pula yang mendistribusikan barang dari Jogja, Solo atau Pekalongan. Dari investigasi saya ternyata Jogjakarta sebagai salah satu pemasok terbesar. Pasar yang terkenal di Jogjakarta yaitu Pasar Beringharjo yang terletak di Jalan Malioboro.
Batik di Pasar Beringharjo ditawarkan dari harga 30.000 hingga 100.000 per potong. Seperti contoh ‘srimbit’ yang merupakan pakaian bagian atas (top) yang dibuat sepasang untuk lelaki dan wanita, beberapa orang menyebutnya batik ‘Papi Mami’ yang ditawarkan dengan harga 100.000, harga yang cukup fantastis dibandingkan dengan harga-harga yang ditawarkan di Plaza-plaza Jakarta, jika kita membeli minimum 12 potong (1 lusin), harga yang diberikan bisa lebih murah lagi. Selain itu, mode-mode dari batik sekarang sangat bervariatif, ada yang resmi seperti : blouse dan kemeja. Untuk yang semi formal seperti baju dengan aksen tali ataupun rumbai pada pinggangnya dan ada juga daster sebagai pakaian tidur yang banyak dikenakan. Batik tidak lagi monoton seperti dulu, mungkin hal ini lah yang membuat batik semakin banyak penggemarnya,
Menurut salah satu pedagang batik di Los pasar Beringharjo, mbak Tuti, permintaan batik mulai meningkat pada bulan Maret 2008, kebanyakan pelanggannya datang dari daerah Jakarta, Surabaya, Padang dan Kalimantan. Pada awalnya, pelanggan hanya beli beberapa potong untuk oleh-oleh dari Jogja, tetapi ketertatikan dari teman-teman di daerahnya serta permintaan yang cukup banyak, membuat para pelanggannya membeli dalam jumlah yang besar dan mulai melirik batik ini sebagai media bisnis yang potensial.

Keuntungan yang dapat diperoleh berkisar Rp 4.000-15.000 untuk setiap potongnya. Nominal ini sekilas nampak kecil, namun bila dalam sehari, kita mampu menjual sampai 100 potong maka dalam sehari keuntungan yang diterima sebesar Rp 800.000 (dihitung keuntungan rata-rata Rp 8.000). Beberapa penjual batik juga membidik pasar perumahan elite di Jakarta dengan cara direct selling, hal ini dilakukan untuk medapatkan keuntungan yang berlipat ganda hingga bisa mencapai 2-3 kali lipat dari modalnya. Menarik bukan?? Ada yang tertarik dengan bisnis ini?? >OseK<