Nelson Mandela Promosi Batik
11 Agustus 2009

Minggu, 20-07-2008 09:09:02 oleh: Retty N. Hakim

Kanal: Opini

Hari Jumat, 18 Juli 2008, banyak harian cetak ibukota yang mengangkat berita ulang tahun tokoh dunia dari Afrika Selatan, Nelson Mandela. Hari itu hari ulang tahunnya yang ke-90.

Mandela, yang pernah dipenjara selama 27 tahun karena menentang politik apartheid ternyata berhasil belajar banyak di dalam penjara. Di Kompas cetak hari Jumat dituliskan bahwa dia mengakui keluar dari penjara sebagai seorang lelaki dewasa. Usianya ketika dimasukkan ke dalam penjara sudah tidak muda, sudah 44 tahun, tapi seperti ditulis di Kompas, dia masuk ke penjara sebagai lelaki yang emosional, keras kepala dan mudah tersinggung, kemudian keluar sebagai sosok yang imbang dan berdisiplin.

Tentu banyak yang meliput ulang tahun Mandela, atau dikenal oleh rakyat Afrika Selatan sebagai Madiba, karena dia adalah presiden kulit hitam pertama. Perhatian ini terlihat dari peluncuran koin dan perangko Nelson Mandela dalam rangka peringatan ulang tahunnya yang ke-90 ini.

Saya sendiri lebih tertarik pada baju batik yang dikenakan Mandela. Pakaian ini tampak dikenakannya pada poster diri, pada perangko, dan juga pada acara ulang tahunnya. Terlihat betapa dia berusaha mengangkat nilai batik Afrika Selatan. Pakaian batik menjadi identik dengan dirinya sehingga ada juga yang menyebutnya “Madiba’s Shirt” (kemeja Madiba). Tentunya hal ini tidak lepas dari promosi Nelson Mandela yang senang memakai batik pada berbagai acara yang diikutinya, termasuk juga pada acara formal.

Jangan heran bila batik juga menjadi sebuah nilai budaya di Afrika Selatan, karena memang menurut hasil penelitian masih ada hubungan budaya dengan Nusantara karena proses migrasi penduduk. Bahkan bahasa Afrikaans yang merupakan satu dari sebelas bahasa resmi di Afrika Selatan memiliki hubungan erat dengan bahasa Melayu. Setidaknya begitu yang pernah saya baca dari penelitian Dr. Ron Witton, seorang Australia yang pernah meneliti hubungan antara bahasa Afrikaans dengan bahasa Melayu.

Tentang bagaimana batik masuk ke Afrika belum pernah secara khusus saya pelajari, tetapi dengan perkembangan batik dengan desain khas Afrika seperti yang terlihat di portal, tidak heran bila nantinya bukan hanya Indonesia dan Malaysia yang bisa membanggakan batik. Bahkan dengan semakin memanasnya bumi ini, bukan tidak mungkin batik menjadi pakaian resmi dalam acara formal internasional…mau ikutan promosi?!